Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Static vs Dynamic Routing



Dalam jaringan komputer, sebuah komputer (perangkat host) secara default hanya bisa terhubung dengan komputer (perangkat host) lainnya yang berada dalam satu kelompok (segmen) jaringan.

Lalu bagaimana jika satu komputer harus mengirimkan data ke komputer lain yang berada pada kelompok jaringan yang berbeda? Untuk menangani problem ini maka digunakanlah teknik routing.


Pengertian Routing

Routing adalah sebuah cara untuk menentukan jalur yang akan dilalui sebuah paket data dari satu kelompok menuju kelompok jaringan lainnya. Perangkat yang bisa melakukan routing disebut Router.

Dengan routing, seorang administrator jaringan bisa menentukan jalur terbaik yang akan dilewati paket data untuk sampai ketujuan.

Saat ini routing dibedakan menjadi dua, yaitu routing static dan routing dynamic.

Static Routing

Static Routing adalah teknik routing yang dilakukan secara manual. Semua kelompok jaringan yang akan terhubung harus ditambahkan secara manual meskipun kelompok jaringan yang dituju sudah melewati beberapa router.

Beberapa informasi yang perlu kita ketahui sebelum mengkonfigurasi static routing pada sebuah routter adalah :
  • Network destination, yaitu kelompok jaringan yang dituju. Penulisanya lengkap dengan netmask, misalnya : 192.168.1.0 255.255.255.0.
  • Nex-Hop IP address, yaitu ip address pertama yang berada didepan ip address lokal yang berfungsi sebagai gateway.
  • Exit Interface, yaitu interface router yang terhubung langsung dengan router berikutnya yang berfungsi sebagai alternatif gateway jika ip yang didapat dari ISP (ip publik) dhcp.

Untuk lebih jelasnya sobat bisa melihat pada gambar berikut ini :



Sesuai dengan informasi diatas maka format default penulisan routing static ada dua model, yaitu :

1. Menggunakan ip address sebagai gateway:
Router(config)#ip route <network destination dan netmask> <next-hop ip address>

2. Menggunakan interface internet (uplink) sebagai gateway:
Router(config)#ip route <network destination dan netmask> <exit interface>

Keterangan :

ip route : perintah utama routing static
network destination dan netmask : network ip address dan netmask tujuan
nex-hop ip address : gateway menggunakan ip address
exit-interface : gateway menggunakan interface menuju publik (port uplink)

Dynamic Routing

Dynamic Routing adalah teknik routing yang akan secara otomatis menambahkan kelompok ip address yang ada pada router lain yang secara topologi masih terhubung dengan router yang sedang dikonfigurasi.

Pada Routing Dynamic, administrator hanya perlu menambahkan network yang ada pada router itu sendiri dan router akan secara otomatis memilih jalur terbaik untuk menuju network berikutnya.

Dynamic Routing menggunakan protocol routing yang menjadi acuan dan cara router memilih jalur terbaik untuk bisa terhubung dengan segmen network lainnya.

Protocol dynamic routing dibedakan menjadi dua, yaitu dynamic routing IGP (Interior Gateway Protocol) dan dynamic routing EGP (Exterior Gateway Protocol).

Interior Gateway Protocol (IGP)

Protocol IGP digunakan untuk menghubungkan router-router yang masih berada dalam AS (Autonomous System) number yang sama, artinya semua router masih berada pada ISP yang sama atau pada perusahaan dan kampus yang memiliki jaringan luas.

Routing dynamic yang berada pada kelompok Interior Gateway Protocol (IGP) yaitu OSPF, EIGRP, IS-IS dan RIP.

Jenis routing dynamic yang berada ada Interior Gateway Protocol ini masih dibagi pada dua kelompok, yaitu kelompok Distance Vektor dan Link State.

Distance Vektor adalah jenis routing protocol yang menggunakan jarak (hop count) dalam memilih jalur terbaik menuju router tujuan.

Maka saat ini routing Distance Vektor sudah banyak ditinggalkan bahkan tidak digunakan lagi, karena perkembangan jaringan yang sangat pesat yang banyak melebihi jumlah jarak (HOP) maksimal.

Yang termasuk dalam jenis Distance Vektor adalah RIP dan EIGRP, Sedangkan Link State merupakan jenis routing yang melakukan pemilihan jalur berdasarkan kondisi link terbaik.

Routing Dynamic yang masuk dalam Link State adalah OSPF dan IS-IS.

Exterior Gateway Protocol (EGP)

Berbeda dengan Interior Gateway Protocol (IGP) yang digunakan untuk menghubungkan network dalama AS number yang sama, maka Exterior Gateway Protocol (EGP) digunakan untuk menghubungkan network dengan AS number yang berbeda.

Saat ini routing dynamic yang berada pada kelompok Exterior Gateway Protocol (EGP) hanya ada satu yaitu routing BGP (Border Gateway Protocol).

Static vs Dynamic Routing

Jadi mana yang routing terbaik antara Static Routing dan Dynamic Routing? Tergantung pada skala jaringan yang kita tangani.

Jika jaringan yang kita tangani masih dalam kategori skala kecil maka lebih baik menggunakan Routing Static, tapi jika jaringan yang kita tangani sudah masuk pada skala besar maka lebih baik menggunakan Routing Dynamic.

Kelebihan dan Kekurangan Static Routing

  • Routing tabel ditambah dan dihapus sendiri secara manual oleh administrator.
  • Cocok untuk jaringan skala kecil
  • Lebih aman
  • Tidak memakan resource besar karena tidak melakukan update routing ke router lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dynamic Routing

  • Routing tabel dibuat otomatis oleh router.
  • Lebih cocok untuk jaringan pada skala besar.
  • Kurang aman
  • Memakan resource lebih besar karena melakukan update routing ke semua router yang terhubung.